
Senyum Gempa Bumi
July 18, 2008Bagi yang sudah merasakan bagaimana ditimpa musibah gempa bumi, pasti tidak akan bisa melupakan perasaan mencekam, was-was, dan mungkin ‘pasrah’, karena saat ditimpa musibah, kita pasti langsung ingat pada Sang Penguasa Alam, Tuhan kita.
Saya, sudah beberapa kali merasakan gempa bumi, yang Alhamdulillah dan Insya Allah, tidak pernah sampai menghancurkan rumah saya maupun tetangga di sekitar saya. Namun begitu, rasanya sudah sangat ‘mengerikan’ .. maklum lah…yang namanya orang hidup, kalau dia tau tiba-tiba akan mati, pasti kan akan takut juga walau sekecil apapun perasaan takutnya.
Tapi ada saja kenangan saat ditimpa musibah gempa, yang masih dapat membuat tersenyum jika saya mengingatnya. Saat itu hampir tengah malam, gempa susulan muncul beberapa bulan setelah terjadinya gempa yang amat dahsyat yang sampai menimbulkan bencana Tsunami di Aceh. Di Medan kami juga merasakannya walau tak separah di Aceh, meski begitu kami semua sudah ketakutan. Gempa kedua adalah yang menyebabkan kerusakan parah di Nias. Saat itu di Medan kami merasakannya sekitar jam 11 malam, lumayan kencang dan keras. Saat sedang duduk2 di rumah, tiba2 serasa diayun2. Seketika, orang2 yang masih trauma akibat gempa yang barusan di Aceh, langsung lari keluar dari rumah dan berkumpul di halaman dan tengah jalan.
Ya Allah…gempa lagi! Padamnya listrikpun membuat suasana semakin mencekam. Saya yakin, semua orang pasti sedang berdoa. Di sekitarku, semuanya berdoa dengan suara kecil meski tetap terdengar. Namun sesaat kemudian, dari arah Barat Daya, disitu dikenal lingkungannya orang-orang pemabuk dan penjudi. Justru orang-orang mendengar dari arah mereka lah yang paling keras seruan puji-pujian kepada Tuhan, yang mungkin ditujukan sebagai ‘penolak bala’ atau ‘pengampun dosa’. Mereka semua berteriak “Allahu Akbar..Ya Allah…La Ila ha Illallah..” mengalahkan keheningan mencekam warga lainnya yang juga sedang berdoa.
Bukan mengejek..semua orang pasti punya dosa, bisa2 lebih besar dari dosa seorang penjudi maupun pemabuk malah..
Tapi kami tertawa karena merasa geli. Kita saja tidak sampai berteriak seperti itu..paling tidak, bukan saat sedang terdesak saja kita mau tobat, ya kan?
Ada satu lagi yang masih membuatku tersenyum. Waktu itu tetangga sebelah rumahku, Bang Iwan namanya, kebetulan mungkin dia sudah tidur. Dan saat gempa terjadi, dengan serta merta dia keluar rumah beserta istri dan anaknya. Tapi dengan tak sadar, ternyata dia hanya mengenakan atasan kaos oblong dan CD (celana dalam) dengan kaos kaki panjang sampai atas lutut…lalu di depan pintu rumahnya mengangkat tangan tinggi2 sambil mengajak kami semua berseru “Ayo kita tobat…Allahu Akbar…Allahu Akbar..”
Seketika semua orang tertawa melihatnya. Bukan ikut berseru tapi bersorak melihat gayanya Bang Iwan yang lucu. Suasana mencekam pun pecah menjadi hangat, berhubung listrik juga sudah menyala. Gempa bumi yang masih tersisa namun tinggal sayup-sayup sudah tidak terasa lagi karena melihat kelucuan-kelucuan orang di sekitar kami…
Ah..ada-ada saja..

wakakakkaa,,,seru juga yach pengelaman u…tp pertanyaannya berapa besar kekuatannya? ampe segitunya…tp pengelamanq gak kalah seru lho..
ternyata gempa di Padang lebih dahsyat.. smg ngga ada gempa yg dahsyat seperti itu lagi
Amiin…